Senin, 20 Desember 2010

Portofolio


1.      Pengertian Portofolio
Istilah portofolio memang baru muncul di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, namun substansinya sebenarnya sudah sering dipraktikkan sejak lama oleh guru-guru meskipun dalam bentuk yang belum sistematis seperti sekarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa portofolio sebenarnya barang lama yang dikemas dengan kemasan baru. 
Selama ini orang lebih mengenal istilah portofolio dalam lapangan pemerintahan, yakni digunakan untuk menyebut salah satu jabatan menteri, yakni menteri yang tidak memimpin departemen. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah minister without portfolio, artinya adalah menteri yang tidak memimpin deparetemen, alias menteri Negara. Dalam lapangan pendidikan dan pengajaran, yang telah dikenal agak luas adalah portofolio sebagai suatu cara penilaian (portfolio based assessment).   Sedangkan istilah portofolio sebagai model pembelajaran relatif masih belum dikenal secara luas.
Portofolio sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses social pedagogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik, portofolio itu adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post-test), dan sebagainya. Sebgai suatu proses sosial pedagogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berwujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Adapun sebagai suatu adjective, portfolio sering kali disbanding dengan konsep lain, misalnya dengan konsep pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran, maka dikenal istilah pembelajaran berbasis portofolio (portfolio based learning), sedangkan jika disandingkan dengan konsep penilaian, maka dikenal istilah penilaian berbasis portofolio (portfolio based assessment).
Portofolio berarti koleksi dokumen atau tugas-tugas yang diorganisasikan dan dipilih untuk mencapai tujuan dan sebagai bukti nyata dari seseorang yang memiliki pertumbuhan dalam bidang pengetahuan, disposisi, dan keterampilan (Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan (Citizenship), SMU, 2001).
Shaklee at. al, (1997:143) menyatakan bahwa “portofolio merupakan sesuatu yang berharga dan merupakan inovasi pendidikan”, secara lengkap diungkapkan sebagai berikut:
This is the most worthwhile educational innovation I have done in a long time. After twenty-seven years in the classroom, I have finally learned how to use my observations and notes to make better decisions for my students. What else could be more important?

Portofolio merupakan temuan yang sangat berharga di bidang pendidikan. Setelah dua puluh tujuh tahun mengajar, akhirnya saya mengetahui bagaimana menggunakan pengamatan dan catatanku untuk membuat keputusan yang lebih baik bagi siswaku.   
Sedangkan Paulson dan Meyer (1991) mendifinisikan portofolio sebagai:
A purposeful collection of student work that exhibit the student’s efforts, progress and achievements in one or more areas. The collection must include student participation in selecting contents, the criteria for selection, the criteria for judging merit and evidence of student self-reflection.

Portofolio merupakan sebuah kumpulan karya siswa yang memiliki tujuan menunjukkan usah siswa, perkembangan dan prestasi siswa dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan tersebut harus melibatkan siswa dalam memilih isi, criteria pemilihan, dan kriteria penilaian.
Portofolio tidak hanya untuk merancang pengajaran tetapi juga digunakan untuk evaluasi pengajaran. Sebagaimana diketahui bahwa dalam proses belajar-mengajar guru berfungsi sebagai perancang, pelaksana, dan penilai. Dalam ketiga fungsinya ini guru hendaknya melaksanakan dengan baik. Evaluasi merupakan unsur pengajaran yang sangat penting karena hanya dengan evaluasi guru dapat mengetahui tingkat perkembangan siswanya dan sekaligus mengetahui sejauh mana keberhasilan pengajaran yang dilakukannya.
Dari berbagai penjelasan di atas, Dasim (2003) menyimpulkan bahwa portofolio merupakan kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio itu sendiri. Portofolio biasanya merupakan karya terpilih dari seorang siswa. Tetapi dapat juga berupa karya terpilih dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan untuk memecahkan masalah.
Istilah “karya terpilih” merupakan kata kunci dari portofolio. Maknanya adalah bahwa yang harus menjadi akumulasi dari segala sesuatu yang ditemukan para siswa dari topik mereka harus memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang paling penting. Oleh karena itu, portofolio bukanlah kumpulan bahan-bahan yang asal comot dari sana sini, tidak ada relevansinya satu sama lain, ataupun bahan yang tidak memperlihatkan signifikansinya sama sekali.

2.      Prinsip Dasar Portofolio
 Jika diamati secara seksama, sekurang-kurangnya ada lima prinsip dasar yang di bawakan model pembelajaran portofolio ini. Kelima prinsip dasar yang dimaksud adalah prinsip belajar siswa aktif (student active learning), kelompok belajar kooperatif (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar yang reaktif (reactive teaching), dan prinsip belajar yang menyenangkan (joyfull learning).  Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan sebagai berikut.
a.      Prinsip Belajar Siswa Aktif (student active learning)
Proses pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio berpusat pda siswa. Dengan demikian model ini menganut prinsip belajar siswa aktif. Aktivitas siswa hampir di seluruh proses pembelajaran, dari mulai fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan, dan pelaporan.
Dalam fase perencanaan aktivitas siswa terlihat pada saat mengidenfikasi masalah dengan menggunakan teknik burse ide (brain strorming). Setiap siswa boleh menyampaikan masalah yang menarik baginya, di samping tentu saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setelah masalah terkumpul, siswa melakukan voting untuk memilih satu masalah untuk kajian kelas.
Dalam fase kegiatan lapangan, aktivitas siswa lebih tampak. Dengan berbagai teknik misalnya dengan wawancara, pengamatan, kuesioner, dan lain-lain. Mereka mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan untuk menjawab permasalahan yang menjadi kajian kelas mereka. Untuk melengkapi data dan informasi tersebut, mereka mengambil foto, membuat skets, membuat kliping, bahkan ada kalanya mengabdikan peristiwa penting dalam video.
Pada fase pelaporan aktivitas mereka terfokus pada pembuatan portofolio kelas. Segala bentuk data dan informasi disusun secara sistematis dan disimpan pada sebuah bundel (portofolio seksi dokumentasi). Adapun data dan informasi yang paling penting dan menarik (eyes catching) ditempel pada portofolio seksi penanyangan, yaitu papan panel yang terbuat dari kardus bekas atau bahan lainyang tersedia. Setelah portofolio selesai dibuat, dilakukanlah public hearing dalam kegiatan show-case dihadapanb dewan juri. Kegiatan ini merupakan puncak penampilan siswa, sebab segala jerih payah siswa diuji dan diperdebatkan di hadapan dewan juri.
b.   Kelompok Belajar Kooperatif (cooperative learning)
Proses pembelajaran dengan model ini juga menerapkan prinsip belajar kooperatif, yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerjasama. Kerja sama antarsiapa? Tiada lain adalah kerja sama antarsiswa dan antar komponen-komponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait. Kerja sama antarsiswa jelas terlihat pada sat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama. Semua pekerjaanm disusun, orang-orangnya ditentukan, siapa mengerjakan apa, merupakan satu bentuk kerjasama itu.
Dengan komponen-komponen sekolah lainnya juga sering kali harus dilakukan kerja sama. Misalnya pada saat para siswa hendak mengumpulkan data dan informasi lapangan sepulang dari sekolah, bersamaan waktunya dengan jadwal latihan olah raga di sekolah. Dalam hal ini perlu dicari jalan keluarnya, yakni membicarakannya dengan guru olah raga sekolah. Apakah jadwal latihan olah raga yang diundur atau kunjungan lapangan yang diubah. Kasus seperti itu memerlukan kerja sama, walaupun dalam lingkup kecil dan sederhana. Hal serupa juga sering kali terjadi dengan pihak keluarga. Orang tua perlu juga diberi pemahaman, manakala anaknya pulang agak terlambat dari sekolah karena melakukan kunjungan lapangan terlebih dahulu. Sekali lagi, dari peristiwa ini pun tampak perlunya kerja sama antara sekolah dengan orang tua dalam upaya membangun kesepahaman.
Kerja sama dengan lembaga terkait diperlukan pada saat para siswa merencanakan mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau suatu kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Misalnya mengunjungi dinas perpakiran untuk mengetahui kebijakan mengenai perpakiran. Mengunjungi kantor bupati atau wali kota untuk mengetahui kebijakan mengenai penertiban pedagang kaki lima. Mengamati dampak pembuangan limbah pabrik pada suatu kawasan tertentu, dan sebagainya. Kegiatyan para siswa itu tentu saja perlu dibekali surat pengantar dari kepala sekolah selaku penanggung jawab kegiatan sekolah.
c.   Pembelajaran partisipatorik
Model Pembelajaran Berbasis Portofolio juga menganut prinsip dasar pembelajaran partisipatorik, sebab melalui model ini siswa belajar sambil melakoni (learning by doing). Salah satunya bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi. Mengapa terdapat pelakonan hidup berdemokrasi? Sebab dalam tiap langkah dalam model ini memiliki makna yang ada hubungannya dengan praktek hidup berdemokrasi.
Sebagai contoh pada saat memilih masalah untukkajian kelas memiliki makna bahwa siswa dapat menghargai dan menerima pendapat yang didukung suara terbanyak. Pada saat berlangsungnya perdebatan, siswa belajar mengemukakan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan kritik dan sebaliknya belajar menerima kritik, dengan tetap berkepala dingin. Proses ini mendukung adigium yang menyatakan bahwa “democracy is not heredity but learning”(demokrasi itu tidak diwariskan, tetapi dipelajari dan dialami). Sebab dalam kenyataannya tidak ada jaminan anak dari seorang ayah yang democrat akan menjadi seorang democrat pula. Yang mungkin terjadi adalah seorang ayah yang democrat, mendidik dan membina anaknya tentang hidup berdemokrasi dalam suasana pergaulan yang demokritis, sehingga pada suatu ketika ia menjadi seorang democrat pula. Dengan demikian, menjadikan seorang democrat harus melalui proses pendidikan yang demokratis pula.
Oleh karena itu mengajarkan demokrasi itu harus dalam suasana yang demokratis (teaching democracy in and for democracy). Tujuan ini hanya dapat dicapai dengan belajar sambil melakoni atau dengan kata lain harus menggunakan prinsip belajar partisipatorik.
d.   Reaktive Teaching (reactive teaching)

Untuk menerapkan model pembelajaran berbasis portofolio, guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi akan dapat tercipta jika guru dapat meyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata. Guru juga harus dapat mencipotakan situasi sedemikian rupa sehingga materi pelajaran selalu menarik, tidak membosankan. Guru harus memiliki sensitivitas yang tinggi untuk segera mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah membosankan siswa. Jika hal ini terjadi, guru harus segera mencari cara untuk mengubahnya. Inilah tipe guru yang reaktif.
Guru yang reaktif di antaranya apat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:
♪    Menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar.
♪  Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa.
♪  Selalu berupaya membangkitkan mootivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai sesuatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan siswa.
♪  Segera mengenali materi atau metode pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila hal ini ditemui, ia segera menanggulanginya.
Model pembelajaran berbasis portofolio menyaratkan guru yang reaktif, sebab tidak jarang pada awal pelaksanaan model ini, siswa ragu dan bahkan malu untuk mengemukakan pendapat. Hal tersebut terjadi oleh karena secara empirik potensi dan kemampuan siswa bervariasi.  Ada siswa yang sudah terbiasa mengemukakan pendapat, berdiskusi, bahkan berdebat, akan tetapi siswa yang lain banyak yang tidak demikian. Dalam keadaan seperti itu, guru hendaknya dapat memberikan dorongan dan motivasi. Caranya adalah dengan memberikan penghargaan kepada setiap pendapat siswa bagaimanapun kualitasnya. Jika setiap pendapat siswa dihargai, lama- kelamaan pada diri mereka  muncul kepercayaan dirinya untuk tidak malu-malu lagi mngemukakan pendapat.
e.      Prinsip Dasar Belajar yang Menyenangkan (joyfull learning).
Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun materi pelajaran apabila dipelajari dalam suasana yang menyenangkan pelajaran tersebut akan mudah dipahami. Sebalaiknya walaupun materi pelajaran tidak terlampau sulit untuk dipelajari, namun apabila suasana belajar membosankan, tidak menarik, apalagi siswa belajar di bawah tekanan, maka pelajaran akan sulit dipahami. Atas dasar pemikiran tersebut, maka agar para siswa mudah memahami materi pelajaran, mereka harus belajar dalam suasana yang menyenangkan, penuh daya tarik dan penuh motivasi.
Model pembelajaran berbasis portofolio menganut prinsip dasar bahwa belajar itu harus dalam suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Melalui model ini para siswa diberi keleluasaan untuk memilih tema belajar yang menarik bagi dirinya. Misalnya kelas yang sedang mempelajari bahasa merencanakan membuat proyek belajar, yaitu mengidentifikasi sejumlah masalah aktual yang ada di masyarakat, kemudian memilih salah satu di antaranya untuk bahan kajian kelas. Fase selanjutnya mereka terjun ke masyarakat mencari data dan informasi untuk memecahkan masalah tersebut. Pengalaman terjun ke masyarakat adalah salah satu pengalaman belajar riil yang menyenangkan bagi mereka, di samping melatih sejumlah kompetensi untuk hidup bermasyarakat, seperti misalnya memiliki kemampuan melakukan wawancara, melakukan observasi membuat laporan perjalanan, mampu bergaul dengan masyarakat, menyelami aspirasi mereka, dan sebagainya. Kompetensi-kompetensi tersebut kelak di kemudian hari sangat bermanfaat bagi para siswa untuk hidup di masyarakat.  Hal yang perlu diingat adalah bahwa pada hakikatnya pendidikan dilakukan untuk membuat siswa siap menghadapi hidupnya.

B.     Portofolio sebagai Proses Belajar Mengajar (Portfolio Based Learning)
Portofolio sebagai proses belajar mengajar diawali oleh isu/masalah yang memerlukan suatu pemecahan (problem solving). Wujudnya suatu tampilan yang dituangkan pada panel atau poster berukuran kurang lebih 100 cm yang berasal dari kardus/papan/gabus/steroform yang pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) berjajar, dan dapat berdiri tanpa penyangga. Namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain sesuai dengan daya kreatifitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif. Portofoilio sebagai proses belajar dilakukan secara kelompok.
Dengan demikian, yang dimaksud portofolio di sini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio. Biasanya portofolio merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, menganalisis, dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji.
Setiap portofolio harus memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang paling penting untuk ditampilkan. Tampilan portofolio berupa tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis, melukiskan proses berfikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan “integrated learning experience” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan.
Strategi pembelajaran (instruksional strategy) yang digunakan dalam model ini, pada dasarnya bertolak dari strategi inquiry learning, discovery learning (belajar penemuan), problem solving learning (belajar memecahkan masalah), dan research oriented learning (belajar mengamati) yang dikemas dalam model “Project” oleh John Dewey.
Portofolio sebagai PBM ini terbagi dalam dua bagian yakni:


1)      Portofolio Tampilan
Portofolio tampilan pada umumnya berbentuk papan empat muka berlipat kurang lebih berukuran 100 cm, namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain sesuai daya kreatifitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif. Bentuk lain tersebut seperti segi tiga sama sisi, lingkaran, oval ataupun bentuk-bentuk lainnya yang secara berurutan menyajikan:
a.      rangkuman permasalahan yang dikaji
b.      berbagai alternatif untuk mengatasi masalah
c.       usulan kebijakan untuk mengatasi masalah
d.     membuat rencana tindakan.
2)      Portofolio Dokumentasi
Portofolio dokumentasi dikemas dalam map ordener, file atau sejenisnya yang disusun secara sistematis mengikuti urutan/langkah-langkah portofolio tampilan. Portofolio tampilan dan dokumentasi selanjutnya disajikan dalam suatu simulasi atau dengar pendapat (public hearing) yang dapat menghadirkan pejabat setempat yang terkait dengan masalah yang dikaji. Acara dengar pendapat dapat dilakukan di masing-masing kelas atau dalam suatu acara “show case” atau “gelar kemampuan/kasus” bersama dalam suatu acara sekolah, misalnya di akhir triwulan atau akhir semester. Bila dikendaki, arena “show case” tersebut dapat pula dijadikan arena “contest” atau kompetisi untuk memilih kelas portofolio terbaik, dan selanjutnya dikirim ke dalam “show case and contest” antarsekolah dalam lingkungan kota/kabupaten, propinsi atau bahkan ke tingkat nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar